Selasa, 07 Februari 2012

Ayah......

Sosoknya telah renta, hampir 70 tahun. Tak bisa lagi mencari nafkah walau hanya untuk dirinya sendiri, hanya satu keyakinannya "ulat saja yang tak bertangan dan berkaki masih bisa makan, berarti rejeki Alloh untuk siapa aja, termasuk ayah"

Dulu sewaktu masih lajang ku bisa menyisihkan sebagian hasil keringatku untuknya, tetapi saat ini aku telah berkeluarga dan memiliki seorang putra. Pernah kuminta ayah disini saja, disini anaknya bukan aku saja jadi jika beliau tidak betah dirumahku beliau bisa tinggal dirumah kakakku. Tapi entah mengapa baru 5 bulan ayah disini beliau sudah minta pulang, beliau bilang lebih enak di rumah sendiri. Entah apa yang membuat ayah tak kerasan dirumah anaknya dan dalam hatiku terbesit rasa kecewa. Berat rasanya jika harus membagi penghasilanku, apalagi jarak memisahkan kami. Selama beberapa hari ini ku coba tuk mengabaikan ayah, berusaha tak peduli padanya. Menghubunginya untuk sekedar menanyakan kabarpun tidak.

Tetapi seakan Yang Kuasa menegurku atas sikapku. Entah bagaimana caranya seorang bocah yang melintas didepan rumahku bersenandung :

Aku hanya memanggilmu, ayah.....
saat aku kehilangan arah
Aku hanya mengingatmu, ayah......
saat aku telah jauh darimu.......

tanpa bisa kubendung bayangan wajah ayah melintas dalam benakku, saat ayah tertawa, saat ayah tidur, saat ayah sedih.
Ayah, maafkan sikapku ini. Kuingin memperbaiki tingkah lakuku padamu.

Engkaulah nafasku
Yang menjaga di dalam hidupku
Kau ajarkan aku menjadi yang terbaik

Kau tak pernah lelah
S'bagai penopang dalam hidupku
Kau berikan aku semua yang terindah